Hujan itu tidak turun di bulan Desember atau Januari. Namun di awal musim pancaroba. Ditandai cahaya kilat yang sesekali menyilet di malam buta, lalu gelegar halilintar membelah angksa. Bersama timah panas, menghunjam dada para tunas bangsa yang tak pernah lelah, tak kenal menyerah, bergerak mendesak rezim otoriter yang korup, demi mengharap terbitnya pelangi esok hari. Kini, setelah dua dekade berlalu, asa untuk melihat keindahan pelangi tak kunjung dijumpai. Karena, gaduhnya pertikaian anak negeri, lambat laun namun pasti telah menghapus jejak kekasih hati.
“Buku ini memperlihatkan kesederhanaan gaya bercerita. Banyak penulis cerpen (terutama di kalangan generasi yang menyebutnya sebagai milenial), yang berusaha mencanggih-canggihkan gaya dengan penulisan yang rumit dan susah dipahami, ---yang seringkali berakhir dengan kedangkalan. Buku ini memperlihatkan sebaliknya: mengangkat yang rumit, menjadi mudah dibaca tanpa menghilangkan kedalaman makna.” –Joni Ariadinata, Redaktur Majalah Sastra Horison
Judul Buku: Hujan telah Jadi Logam Penulis: Marwanto Penerbit: Interlude, 2019 ISBN: 9786025873577 Kategori: Kumpulan Cerita Bahasa: Indonesia Dimensi: 13 x 19 cm | SoftCover Tebal: vii + 110 hlm | BookPaper Harga: 50.000